MAJAS (GAYA BAHASA)


Gaya Bahasa
Gaya Bahasa. Majas atau gaya
bahasa adalah pemanfaatan
kekayaan bahasa, pemakaian ragam
tertentu untuk memperoleh efek-
efek tertentu, keseluruhan ciri
bahasa sekelompok penulis sastra
dan cara khas dalam
menyampaikan pikiran dan
perasaan, baik secara lisan maupun
tertulis. Berikut ini jenis-jenis
majas/gaya bahasa.
Majas perbandingan
Alegori : Menyatakan dengan cara
lain, melalui kiasan atau
penggambaran.
Perjalanan hidup
manusia seperti
sungai yang
mengalir
menyusuri tebing-
tebing, yang
kadang-kadang
sulit ditebak
kedalamannya,
yang rela
menerima segala
sampah, dan yang
pada akhirnya
berhenti ketika
bertemu dengan
laut.
Berhati-hatilah
dalam
mengemudikan
bahtera kehidupan
keluargamu sebab
batu karang dan
gelombang setiap
saat menghadang.
Iman adalah
kemudi dalam
mengarungi
zaman.
Suami sebagai
nahkoda, Istri
sebagai juru mudi.
Alusio: Pemakaian ungkapan yang
tidak diselesaikan karena sudah
dikenal.
Sudah dua hari ia
tidak terlihat
batang hidungnya.
Saya tahu siswa
yang lempar batu
sembunyi tangan .
Jangan seperti
katak dalam
tempurung.
Tugu ini
mengingatkan kita
pada peristiwa
Bandung Lautan
Api.
Ah, kau ini sudah
gaharu cendana
pula.
Kartini kecil itu
turut
memperjuangkan
haknya.
Apakah peristiwa
Turang Jaya itu
akan terulang lagi?
Upacara ini
mengingatkan aku
pada proklamasi
kemerdekaan
tahun 1945.
Simile : Pengungkapan dengan
perbandingan eksplisit yang
dinyatakan dengan kata depan dan
penghubung, seperti layaknya,
bagaikan, ” umpama”,
“ibarat”,”bak”, bagai”.
Kau umpama air
aku bagai
minyaknya ,
bagaikan Qais dan
Laila yang dimabuk
cinta berkorban
apa saja.
Engkau laksana
bulan.
Kenangan
bersamamu
seumpama mimpi
di dalam mimpi.
Kau bagaikan
Rahwana menculik
Dewi Shinta dari
tangan Sri Rama
Pikirannya kusut
bagai benang
dilanda ayam.
Metafora: Gaya Bahasa yang
membandingkan suatu benda
dengan benda lain karena
mempunyai sifat yang sama atau
hampir sama.
Cuaca mendung
karena sang raja
siang enggan
menampakkan diri.
dewi malam
(bulan)
kupu-kupu malam
(WTS)
bunga bangsa
(generasi muda)
bunga desa (gadis
desa tercantik)
Antropomorfisme: Metafora yang
menggunakan kata atau bentuk lain
yang berhubungan dengan manusia
untuk hal yang bukan manusia.
Mulut gua itu
sangat sempit.
Sinestesia : Majas yang berupa
suatu ungkapan rasa dari suatu
indra yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
Rohaniku semakin
haus, untuk
meneguk sejuk
yang menumpang
kata-katanya.
dan batu-batu
jalanan yang
mengesalkan
kaki semoga tidak
menyesalkan hati!
menyilaukan
mataku hampir
pula menyilaukan
hatiku.
Di sana kebiruan
laut akan bicara
bagai sebuah buku.
Antonomasia: Penggunaan sifat
sebagai nama diri atau nama diri
lain sebagai nama jenis.
Yang Mulia tak
dapat menghadiri
pertemuan ini.
Aptronim: Pemberian nama yang
cocok dengan sifat atau pekerjaan
orang.
Sulit kalau bicara
dengan Si Bolot,
orang bertanya ke
mana dijawab ke
mana.
Metonimia: Pengungkapan berupa
penggunaan nama untuk benda lain
yang menjadi merek, ciri khas, atau
atribut.
Karena sering
menghisap jarum,
dia terserang
penyakit paru-
paru.(Rokok merek
Djarum)
Ia menggunakan
Jupiter jika pergi ke
sekolah
Hipokorism e: Penggunaan nama
timangan atau kata yang dipakai
untuk menunjukkan hubungan
karib.
Lama Otok hanya
memandangi
ikatan bunga biji
mata itu, yang
membuat otok kian
terkesima.
Litotes: Ungkapan berupa
penurunan kualitas suatu fakta
dengan tujuan merendahkan diri.
Terimalah kado
yang tidak
berharga
ini sebagai tanda
terima kasihku.
Hanya teh dingin
dan kue kampung
saja yang dapat
kami hidangkan.
Rumah yang
buruk inilah hasil
kerja keras kami.
Aapa yang Saudara
harapkan
dari orang semiskin
saya.
Hiperbola: Pengungkapan yang
melebih-lebihkan kenyataan
sehingga kenyataan tersebut
menjadi tidak masuk akal.
Gedung-gedung
perkantoran di
kota-kota besar
telah mencapai
langit
Kita berjuang
sampai titik darah
penghabisan.
Ibu terkejut
setengah mati,
ketika mendengar
anaknya
kecelakaan.
Personifikasi: Pengungkapan
dengan menggunakan perilaku
manusia yang diberikan kepada
sesuatu yang bukan manusia.
Hembusan angin di
tepi pantai
membelai
rambutku.
Burung bernyanyi
di pagi hari.
Angin meraung
menemani sang
hujan.
Angin berbisik
menyampaikan
salam.
Baru seratus meter
berjalan, mobilnya
sudah batuk-batuk.
Ombak berkejar-
kejaran.
Daun kelapa
melambai-lambai.
Depersonifikasi: Pengungkapan
dengan tidak menjadikan benda-
benda mati atau tidak bernyawa.
dikau langit, daku
bumi.
Pars pro toto : Pengungkapan
sebagian dari objek untuk
menunjukkan keseluruhan objek.
Sejak kemarin dia
tidak kelihatan
batang hidungnya.
Thailand
memboyong piala
kemerdekaan
setelah
menggulung PSSI
Harimau
Totum pro parte: Pengungkapan
keseluruhan objek padahal yang
dimaksud hanya sebagian.
Indonesia
bertanding volly
melawan Thailand.
Eufimisme: Pengungkapan kata-
kata yang dipandang tabu atau
dirasa kasar dengan kata-kata lain
yang lebih pantas atau dianggap
halus.
Dimana saya bisa
menemukan kamar
kecilnya(WC) ?
Pramuwisma bukan
pekerjaan hina.
(pembantu rumah
tangga)
Orang itu
telah berubah akal.
(gila )
Ia telah pergi
mendahului kita.
(meninggal )
Putera Bapak
memang agak
ketinggalan.
(kurang pintar )
Disfemisme : Pengungkapan
pernyataan tabu atau yang dirasa
kurang pantas sebagaimana adanya.
Hati-hati, kita
mulai masuk hutan
larangan. Di sini
banyak hantu!
Fabel: Menyatakan perilaku
binatang sebagai manusia yang
dapat berpikir dan bertutur kata.
Perilakunya seperti
ular yang
menggeliat.
Parabel: Ungkapan pelajaran atau
nilai tetapi dikiaskan atau
disamarkan dalam cerita.
Cerita Ramayana
melukiskan
maksud bahwa
yang benar tetap
benar
Perifrasa: Ungkapan yang panjang
sebagai pengganti ungkapan yang
lebih pendek.
Ia bersekolah di
kota kembang
(maksudnya:
Bandung).
Indonesia pernah
dijajah oleh negeri
matahari terbit
(maksudnya:
Jepang).
Eponim : Menjadikan nama orang
sebagai tempat atau pranata.
Kita bermain ke
rumah Ina.
Hellen dari Troya
untuk menyatakan
kecantikan
Simbolik: Melukiskan sesuatu
dengan menggunakan simbol atau
lambang untuk menyatakan
maksud.
Keduanya hanya
cinta monyet.
Dia menjadi lintah
darat.
Asosiasi: perbandingan terhadap
dua hal yang berbeda, namun
dinyatakan sama.
Masalahnya rumit,
susah mencari
jalan keluarnya
seperti benang
kusut.
Bagaikan harimau
pulang kelaparan.
Seperti menyulam
di kain yang lapuk.
Majas sindiran
Ironi : Sindiran dengan
menyembunyikan fakta yang
sebenarnya dan mengatakan
kebalikan dari fakta tersebut.
Suaramu merdu
seperti kaset kusut.
Manis sekali kopi
ini, gula mahal ya?
Bagus sekali
tulisanmu, sampai
– sampai tidak bisa
dibaca.
Pandai sekali kau
baru datang ketika
rapat mau selesai.
Bagus benar rapor
si Andi, banyak
angka merahnya.
Sarkasme : Sindiran langsung dan
kasar.
Mampuspun aku
tak peduli, diberi
nasihat aku tak
peduli, diberi
nasihat masuk
ketelinga
Sinisme: Ungkapan yang bersifat
mencemooh pikiran atau ide bahwa
kebaikan terdapat pada manusia
(lebih kasar dari ironi).
Kamu kan sudah
pintar ? Mengapa
harus bertanya
kepadaku ?
Harum bener
baumu pagi ini ?
Belum mandi ya !
Satire: Ungkapan yang
menggunakan sarkasme, ironi, atau
parodi, untuk mengecam atau
menertawakan gagasan, kebiasaan,
dll.
Ya, Ampun! Soal
mudah kayak gini,
kau tak bisa
mengerjakannya!
Innuendo: Sindiran yang bersifat
mengecilkan fakta sesungguhnya.
Ia menjadi kaya
raya karena
mengadakan
komersialisasi
jabatannya
Majas penegasan
Apofasis: Penegasan dengan cara
seolah-olah menyangkal yang
ditegaskan.
Saya tidak mau
mengungkapkan
dalam forum ini
bahwa saudara
telah
menggelapkan
ratusan juta rupiah
uang negara
Pleonasme : Menambahkan
keterangan pada pernyataan yang
sudah jelas atau menambahkan
keterangan yang sebenarnya tidak
diperlukan.
Saya naik tangga ke
atas .
Saya
telah mendengar
hal itu dengan
telinga saya
sendiri.
Saya melihat
kejadian itu
dengan mata
kepala saya sendiri
Api yang panas
telah
meluluhlantakkan
pabrik tekstil itu.
Repetisi : Perulangan kata, frasa,
dan klausa yang sama dalam suatu
kalimat.
Seumpama eidelwis
akulah cinta abadi
yang tidak akan
pernah
layu. Seumpama
merpati akulah
kesetiaan yang
tidak pernah
ingkar
janji. Seumpama
embun akulah
kesejukan yang
membasuh hati
yang
lara. Seumpama
samudra akulah
kesabaran yang
menampung keluh
kesah segala
muara.
Pararima : Pengulangan konsonan
awal dan akhir dalam kata atau
bagian kata yang berlainan.
bolak-balik, lika-
liku, kocar-kacir
Aliterasi: Repetisi konsonan pada
awal kata secara berurutan.
Keras-keras kena
air lembut juga.
Bukan uang, bukan
mobil, bukan
rumah mewah
yang aku harapkan
dari ayah dan ibu.
Aku hanya ingin
ayah dan ibu ada di
sini. Aku hanya
ingin perhatian.
Hanya itu, tidak
lebih.
Mengalir,
menimbu,
mendesak,
mengepung,
memenuhi sukma,
menawan tubuh
(“Perasaan Seni”,
J.E. Tatengkeng).
Budi baik bagai
bekal bagi
kehidupan kita.
Paralelisme: Pengungkapan dengan
menggunakan kata, frasa, atau
klausa yang sejajar.
Jika kamu minta,
aku akan datang
Baik golongan yang
tinggi maupun
golongan yang
rendah harus
diadili kalau
bersalah.
Segala kupinta
tiada
kuberi.. Segala
tanya tiada kau
sahuti. (“Nyanyi
Sunyi”. Amir
Hamzah)
Mereka boleh
memburu. Mereka
boleh
membakar. Mereka
boleh
menembak (“Afrika
Selatan”, Subagio
Sastrowardo)
Tautologi: Pengulangan kata
dengan menggunakan sinonimnya.
Kejadian itu tidak
saya inginkan dan
tidak saya
harapkan.
Saya khawatir dan
was – was
dengannya.
Ia jadi marah dan
murka kepada
orang yang
menyerempet
motor
kesayangannya.
Sigmatisme: Pengulangan bunyi “s”
untuk efek tertentu.
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis.
(SuratCinta, Rendra
)
Antanaklasis: Menggunakan
perulangan kata yang sama, tetapi
dengan makna yang berlainan.
Ibu membawa
buah tangan, yaitu
buah apel merah.
Ada dua buah
rumah kaca di
halaman rumah
Pak Saiman
Pada tanggal 5
April 2010, gigi
susu Aliya mulai
tanggal. Saat itu,
Aliya berusia
empat tahun.
Klimaks : Pemaparan pikiran atau
hal secara berturut-turut dari yang
sederhana/kurang penting
meningkat kepada hal yang
kompleks/lebih penting.
Ketua pengadilan
negeri itu adalah
orang yang kaya,
pendiam, dan tidak
terkenal namanya.
Semua anak – anak,
remaja, dewasa,
orang tua dan
kakek.
Antiklimaks: Pemaparan pikiran
atau hal secara berturut-turut dari
yang kompleks/lebih penting
menurun kepada hal yang
sederhana/kurang penting.
Kesengsaraan
membuahkan
kesabaran,
kesabaran
pengalaman, dan
pengalaman
harapan.
Para bupati, para
camat, dan para
kepala desa.
Persiapan
pemilihan umum
telah dilaksanakan
secara serentak di
ibu kota negara,
ibu kota provinsi,
kabupaten,
kecamatan, dan
semua desa di
seluruh Indonesia,
hingga di tingkat
RW maupun RT.
Inversi: Menyebutkan terlebih
dahulu predikat dalam suatu
kalimat sebelum subjeknya.
Telah bertemu, aku
dan dia.
Terpaksa mengemis
bocah itu di
pinggiran jalan
Kubelai rambutnya
yang panjang
Retoris : Ungkapan pertanyaan yang
jawabannya telah terkandung di
dalam pertanyaan tersebut.
Siapakah yang
tidak ingin hidup ?
Adakah orang yang
ingin sakit selama
hidupnya?
Siapa yang ingin
hidup bahagia?
Dapatkah harimau
terbang?
Mungkinkah orang
yang sudah mati
hidup kembali?
Elipsis: Penghilangan satu atau
beberapa unsur kalimat, yang
dalam susunan normal unsur
tersebut seharusnya ada.
Kami ke rumah
nenek
( penghilangan
predikat pergi )
Andai saja kamu
mau mengikuti
saranku, tentu….
Sudahlah
semuanya sudah
terjadi, tidak perlu
dibicarakan lagi.
Aku sudah
memberimu modal
uang, barang,
bahkan waktuku
bersama keluarga,
tetapi hasilnya….
Koreksio: Ungkapan dengan
menyebutkan hal-hal yang
dianggap keliru atau kurang tepat,
kemudian disebutkan maksud yang
sesungguhnya.
Silakan pulang
saudara-saudara,
eh maaf, silakan
makan.
Kalau tidak salah,
saya pernah
menyampaikan hal
ini dua hari yang
lalu. Ah bukan,
kemarin.
“Tujuan kami
menghadap Pak
Lurah, ingin
mengadakan acara
parade bedug,
maksudnya
meminta izin
untuk mengadakan
parade bedug.
Polisindenton: Pengungkapan
suatu kalimat atau wacana,
dihubungkan dengan kata
penghubung.
Dan Kinkin percaya
Bapak tidak
berbohong. Ibu
juga tidak. Ia pun
mendadak merasa
mendapat
limpahan dari
langit, anugerah.
Sebab dia buta,
maka dia tidak
perlu menangis
seperti Bapak sebab
dia buta, maka dia
bisa memilih apa
yang ingin
dilihatnya, dengan
mata imaji, untuk
selalu hanya
membiaskan hal-
hal yang
menyenangkan…..
(“Pelangi Kinkin”,
Asma Nadia)
Asindeton: Pengungkapan suatu
kalimat atau wacana tanpa kata
penghubung.
Dan kesesakan
kesedihan,
kesakitan, seribu
derita detik-detik
penghabisan orang
melepaskan nyawa.
Angin bertiup
kencang
menebarkan hawa
dingin yang cukup
menggerogoti
tulang sumsumnya.
Ia menekuk lutut,
(lalu) menautkan
pada perut seraya
terus duduk
meringkuk di
dalam becaknya,
(dan) mencoba
menciptakan
kehangatan di
tengah badai yang
semakin
menderas. (“
Seorang Lelaki dan
Selingkuh”, Afifah
Afra)
Interupsi: Ungkapan berupa
penyisipan keterangan tambahan di
antara unsur-unsur kalimat.
Tiba-tiba ia-suami
itu disebut oleh
perempuan lain.
Orang bilang, istri
juragan haji, tetua
di kampungnya
yang sudah naik
haji berulang-
ulang, sombongnya
minta ampun…
(“Pelangi Kinkin”,
Asma Nadia)
Ia ingat Mang Karta
yang sebatang kara,
yang malam ini
sibuk menjadi amil
di masjid tempat
mereka berdua
tinggal, mati-
matian berusaha
membunuh sepi.
(“Bunga Fitri”, El-
Syifa)
Eksklamasio: Ungkapan dengan
menggunakan kata-kata seru.
Wah, biar ku
peluk, dengan
tangan menggigil.
Enumerasio: Ungkapan penegasan
berupa penguraian bagian demi
bagian suatu keseluruhan.
Laut tenang. Di atas
permadani biru itu
tanpak satu-
satunya perahu
nelayan meluncur
perlahan-lahan.
Angin berhempus
sepoi-sepoi. Bulan
bersinar dengan
terangnya. Disana-
sini bintang-
bintang
gemerlapan.
Semuanya berpadu
membentuk suatu
lukisan yang
haromonis. Itulah
keindahan sejati.
Preterio: Ungkapan penegasan
dengan cara menyembunyikan
maksud yang sebenarnya.
Rasanya berat bibir
ini untuk
mengatakan bahwa
kucing
kesayangannya
telah mati tadi
siang karena
tertabrak mobil.
Reputasi Anda di
hadapan para
karyawan sangat
baik. Namun
dengan adanya
pemecatan
karyawan tanpa
alasan saya ingin
mengatakan bahwa
Anda baru saja
menghancurkan
reputasi baik itu.
Lupakan semua
ucapannya, anggap
saja angin lalu.
Tak perlu saya
sebut orangnya,
semua orang di
ruangan ini pasti
sudah tahu.
Alonim : Penggunaan varian dari
nama untuk menegaskan.
Dok, pasien sudah
selesai ditrepanasi.
(Dok adalah varian
dari dokter)
“Bagaimana jika
perdarahan di
otaknya tidak
kunjung berhenti
prof.?” tanya
mahasiswa yang
antusias pada
kuliah cedera
kepala Prof.
Maliawan.
Kolokasi: Asosiasi tetap antara
suatu kata dengan kata lain yang
berdampingan dalam kalimat.
Mobil itu berderit
ketika sopir
menginjak rem
tiba-tiba, di
tikungan,
meninggalkan
bekas ban yang
tajam di jalanan
yang berdebu.
Silepsis: Penggunaan satu kata yang
mempunyai lebih dari satu makna
dan yang berfungsi dalam lebih
dari satu konstruksi sintaksis.
Ia menundukkan
kepala dan
badannya untuk
memberi hormat
kepada kami.
Fungsi dan sikap
bahasa.
(Seharusnya:
Fungsi bahasa dan
sikap bahasa)
Fungsi bahasa
maknanya ‘fungsi
dari bahasa’, sikap
bahasa maknanya
‘sikap terhadap
bahasa’ (Diksi dan
Gaya Bahasa, Gorys
Keraf)
Ia sudah
kehilangan topi
dan semangatnya.
(Sehausnya: Ia
sudah kehilangan
topi dan
kehilangan
semangatnya).
Zeugma: Silepsi dengan
menggunakan kata yang tidak logis
dan tidak gramatis untuk
konstruksi sintaksis yang kedua,
sehingga menjadi kalimat yang
rancu.
Anak itu
memang rajin dan
juga malas belajar
di sekolah.
Kita harus berbuat
baik di
dunia dan akhirat.
Majas pertentangan
Paradoks: Pengungkapan dengan
menyatakan dua hal yang seolah-
olah bertentangan, namun
sebenarnya keduanya benar.
Hatinya sunyi
tinggal di kota
Jakarta yang ramai.
Dia kaya tetapi
miskin .
Kita
memang berani
tetapi takut.
Hari
yang cerah untuk
jiwa yang sepi
Dia besar tetapi
nyalinya kecil.
Oksimoron: Paradoks dalam satu
frasa.
Keramah-tamahan
yang bengis
Cinta membuatnya
bahagia, tetapi juga
membuatnya
menangis
Antitesis : Pengungkapan dengan
menggunakan kata-kata yang
berlawanan arti satu dengan yang
lainnya.
Hidup
matinya manusia
di tangan Tuhan.
Cantik atau tidak,
kaya atau miskin ,
bukanlah ukuran
nilai seorang
wanita.
Bahasa dapat
menunjukkan
tinggi
rendahnya suatu
bangsa.
Maju
mundurnya desa
tergantung dari
warganya
Semua kebaikan
ayahnya dibalas
dengan keburukan
yang menyakitkan.
Kontradiksi interminus:
Pernyataan yang bersifat
menyangkal yang telah disebutkan
pada bagian sebelumnya.
Semuanya telah
diundang, kecuali
Sinta
Anakronisme: Ungkapan yang
mengandung ketidaksesuaian
dengan antara peristiwa dengan
waktunya.
Dalam tulisan
Cesar, Shakespeare
menuliskan jam
berbunyi tiga kali
(saat itu jam belum
ada)
Dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s